Berkeluarga – Awalnya, saya pikir menjadi ibu hanyalah perubahan dunia seratus delapan puluh derajat. Membingungkan, bikin repot, tapi juga bikin happy.
Saat berhenti menjadi akuntan dan berbelok setir menjadi ibu rumah tangga, saya juga sempat gamang. Akankah karir dan cita-cita saya dikubur saja?
Ternyata, menjadi ibu juga membuka peluang meraih berbagai cita-cita lain yang sempat saya impikan. Enggak percaya? Yuk lah saya jelasin.
Pertama, cita-cita menjadi penyanyi.
Yup, saya sempat ingin jadi penyanyi waktu masih kinyis-kinyis. Tampil di panggung, menghibur penonton, dapat uang gede, dan masuk TV. Yaa, namanya juga anak kecil. Tapi setelah dewasa, itu tinggal keinginan saja, hehehe.
Nah, setelah jadi ibu, barulah cita-cita itu kesampaian. Bisa nyanyiin si kecil saat bermain, menjelang tidur, dan kapan saja dia mau. Benar-benar deh saya dapat dua fans berat sekarang!
Kedua, cita-cita menjadi psikolog.
Psikologi adalah jurusan impian saya saat kuliah, tapi tidak kesampaian. Saat akan menjadi ibu, ternyata saya bisa mempelajari bidang ini juga. Untuk mendampingi tumbuh kembang anak-anak, saya rajin membaca buku-buku psikologi. Saya juga mengikuti seminar, workshop dan bootcamp.
Qodarullah, ini sangat berguna saat si sulung mendapat diagnosis koumpounophobia (fobia kancing) dan fobia ketinggian. Saya dapat mendampinginya dan bekerja sama dengan terapisnya, hingga di usia 11 tahun fobia kancingnya teratasi.
Kini tinggal fobia ketinggian yang harus kami hadapi. Saya merasa jadi psikolog pribadi untuknya sekarang. Kondisi yang membahagiakan, sekaligus memberikan banyak insight dalam hidup saya.
Ketiga, cita-cita menjadi koki.
Ini adalah cita-cita dadakan saat anak pertama saya GTM. Berbekal kursus online dan belajar otodidak dari YouTube, akhirnya saya bisa juga membuat menu yang disukai anak-anak. Senang rasanya waktu mereka request menu khusus atau bilang, “Makanan ini enak banget, Ma!”
Saya juga bahagia saat anak-anak lebih memilih membawa bekal yang saya siapkan daripada jajan di luar. Jadi gini ya, rasanya jadi koki pribadi itu. Hehehe.
Keempat, cita-cita menjadi penulis
Profesi ini adalah cita-cita yang kandas saat SMA, setelah kebanyakan orang di lingkungan saya menyatakan penulis adalah cita-cita yang tidak bisa bikin kaya. Iya, waktu itu saya belum memahami bagaimana nikmatnya bekerja karena passion, bukan sekadar mengumpulkan uang.
Setelah menjadi ibu dan resign dari sebuah perusahaan multinasional, saya melirik lagi hasrat terpendam menjadi penulis. Terlebih setelah si sulung (waktu itu dia masih balita) kerap minta dibikinkan dongeng. Jadilah saya belajar lagi tentang dunia literasi dan kepenulisan.
Saat ini, saya telah menerbitkan dua buku solo, sejumlah antologi, dan menulis ratusan artikel sebagai ghost writer maupun penulis konten. Profesi yang masih bertahan hingga sekarang, dan mungkin tidak akan saya raih jika tidak menjadi ibu.
Membaca paparan saya di atas, mungkin ada yang bertanya. Bagaimana dengan karir dan ilmu di bangku kuliah yang saya dapatkan? Bukankah harus ditinggalkan saat saya resign?
Tentu tidak. Ilmu akuntansi yang sempat saya dalami tetap terpakai, kok. Bukankah ibu juga berperan sebagai manajer keuangan di rumah tangga? Walaupun ranahnya berbeda, tapi saya tetap mendapat kesempatan untuk mempraktikkan bidang ini.
Jadi, bisa dikatakan menjadi ibu adalah kesempatan untuk meraih berbagai cita-cita yang dulu mungkin sempat kita impikan. Kuncinya hanya dua; mau terus belajar dan meng-upgrade diri, serta manajemen waktu yang baik.
Saat ini ada banyak komunitas yang mendukung para ibu meningkatkan kemampuan diri. Mereka menyediakan pelatihan, dukungan, dan jejaring agar anggotanya bisa menjadi ibu yang membanggakan keluarga.
Misalnya Komunitas Ibu Profesional, Komunitas Ibu Punya Mimpi, IbuSibuk, dll. Sebagian besar komunitas ini memberikan kesempatan bergabung dan belajar secara online dan offline. Anda dapat memilih satu atau beberapa yang sesuai passion.
Maka, jangan berkecil hati jika saat ini wilayah baktimu hanya di dalam rumah, mendampingi anak-anak dan mendukung karir suami. Percaya deh, dengan kemauan untuk terus belajar dan mengenali passion diri, kita para ibu juga bisa bersinar. Tentunya dengan cara masing-masing.
Yuk, bisa yuk Bu!





