Berkeluarga – Saat ta’aruf dan akhirnya memilih menikah dengan pria berbeda suku, saya pikir, ah ini gampang lah. Saya yang lahir dan besar di Medan, tumbuh di keluarga plural. Ayah saya Mandailing, dengan ibu Jawa dan sejumlah saudara yang juga menikah lintas suku. Bahkan lintas kebangsaan.
Jadi ketika memilih suami dari suku Melayu/Kampar, saya santai saja. Tidak terbayang perbedaan budaya yang mencolok karena toh kami masih satu pulau. Berbatasan pula provinsinya. Tapi ternyata perbedaan tidak selalu datang dari masalah besar, hadirin.
Masalah sepele pertama yang saya hadapi adalah perbedaan sapaan. Di Medan, kata ‘aku’ dan ‘kau’ itu biasa bahkan terkesan akrab. Hal yang kebalikan di beberapa wilayah Melayu, termasuk di tempat suami.
Jadi waktu kami baru menikah dan sedang ngobrol berdua lalu saya kelepasan, “Aku kan sudah bilang sama kau, Mas. Nggak gitu caranya,” spontan wajah suami merah padam. Dia diem sih, tidak meledak. Tapi saya langsung kicep karena sadar dia marah.
Duh, salah ngomong sih saya.
Masalah kedua adalah bahasa. Walaupun Bahasa Melayu adalah induk Bahasa Indonesia, nyatanya ada saja istilah yang tidak saya mengerti. Saat ke Bengkalis, dan berkenalan dengan sebagian keluarga suami, saya hanya bisa planga-plongo.
“Mike tu dah lama di Pekanbaru?”
Astaga, siapa itu Mike?
“Tolongkan Wak dulu, ye. Mike tutupkan lah tingkap tu, dah petang.”
Mike lagi? Siapa sih? Tapi orang-orang selalu memanggil dan menatap saya saat membicarakan si Mike ini. Penasaran tingkat akut, saya berbisik ke suami,
“Mas salah ngasih tahu namaku ya di sini?”
“Hah?” suami bingung. “Enggak, kok. Mas ngasih tahu nama kamu yang sebenarnya.”
“Terus kenapa mereka manggil aku ‘mike-mike’ terus dari tadi?” cecar saya.
Suami melongo sedetik, lalu ketawa geli. “Mike itu artinya kamu. Bukan nama orang.” Yee.. mana eike tahu, kan?
Lain halnya ketika pergi ke Kampar, daerah ibu mertua. Kampar ini unik, karena secara budaya digolongkan ke dalam Melayu, tetapi mereka memiliki adat dan bahasa yang lebih mirip Minangkabau.
Contohnya saat saya yang sedang duduk santai di teras depan rumah disapa oleh mertua, “Eh, masuklah. Jangan di luar lagi, da kolam lah.”
Saya mengernyit lalu melongokkan kepala jauh-jauh ke depan, mencari kolam yang beliau maksud. “Nggak ada tuh, Mak,” jawab saya.
“Eeh, ngapo (kenapa) pula tak ado. Ado tampak ni, kolam. Kolam,” ucap mertua lagi penuh penekanan.
Saya bangkit dari duduk dan berjalan hingga ke batas halaman yang cukup lebar. “Yang ada di sini parit, Mak. Bukan kolam,” ujar saya lagi.
Mertua saya terdiam sejurus, lalu tertawa geli. Persis seperti saat suami menertawakan saya di Bengkalis dulu. “Kolam tu maksudnya gelap. Ini hari sudah gelap, Nak. Itu maksudnya tadi. Masuklah, hari dah gelap. Dah mau maghrib.”
Saya cuma bisa cengar-cengir sambil berlari kecil ke dalam rumah. Ternyata kolam itu kelam jika dalam bahasa Indonesia.
Kali lain, saya dan suami terlibat cekcok gara-gara kehilangan gunting. Iya, gunting. Sebentuk benda yang biasanya saya taruh di laci peralatan, lalu menghilang. Sementara hanya kami berdua di rumah saat itu.
“Lihat gunting, nggak?” tanya saya sambil mengobrak-abrik setiap laci di rumah.
“Ada, dekat meja tu,” jawab suami santai sambil memeriksa PR anak didiknya.
“Meja manaa?” tanya saya lagi. Mulai naik spaning.
“Meja makan, laa. Mana ada meja lain di rumah ini?” jawab suami lagi.
Sambil misuh-misuh, saya ke arah ruang makan. Kami memang hanya memiliki meja makan. Tidak ada meja di ruang tamu karena hanya diisi dengan karpet serta cushion saja.
“Dapat? Dekat meja loh, dekat meja.” Suami menghampiri dengan raut keruh karena menyadari saya masih gedubrakan mencari gunting.
“Mana adaa!” pekik saya kesal. Saya sudah cari di bawah, sisi meja, di sebelahnya, bahkan hingga ke dapur, nihil!
“Lah ini kan gunting?” suami menunjuk benda itu, yang berada di ATAS meja. “Kan tadi udah Mas bilang, dekat meja!”
“Ini namanya di atas meja, bukan dekat meja!” Saya gusar.
Suami mengerjap polos, lalu mendecakkan lidah. “Orang Melayu bilang, ‘dekat’ berarti ‘di’. Dekat meja, berarti di meja. Dekat sini berarti disini. Aduh, percuma sehari-hari nonton Upin Ipin.”
Lantas dia berlalu, meninggalkan saya yang mangkel. Ih, sebel!





