Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Pengalaman Melahirkan Anak Kedua Melalui Operasi Caesar

Image By Pexels.com

Berkeluarga – Kedua anak saya lahir melalui operasi caesar. Jika yang pertama caesar cito alias operasi karena kondisi darurat, maka si bungsu lahir melalui caesar yang memang telah direncanakan.

Walaupun judulnya direncanakan, ternyata ada saja hal-hal di luar prediksi yang terjadi. Mulai dari stok darah yang kurang, tas bayi yang menghilang, hingga kondisi pra operasi yang meresahkan.

Terlebih, saya menghadapi operasi caesar seorang diri. Suami hanya bisa mengantar hingga ruang IGD karena harus segera ke PMI, sehingga seluruh prosedur saya selesaikan sendiri. Hingga operasi selesai dan saya dipindahkan ke ruang rawat.

Nah, jika kamu juga sedang menunggu HPL dan berkemungkinan caesar, mungkin bisa menilik pengalaman saya agar persiapannya lebih matang dan operasi berjalan lancar.

Pertama, Masalah Darah

Ternyata, pasien operasi caesar sebaiknya  menyediakan setidaknya satu kantong darah untuk berjaga-jaga. Karena operasi tidak selalu berjalan lancar. Jika kamu pasien VIP sebuah rumah sakit yang bagus pelayanannya, stok darah biasanya telah masuk ke dalam layanan paket persalinan.

Namun untuk pasien BPJS, diharapkan mencari stok darah sendiri. Maka, sebelum operasi sebaiknya carilah teman atau saudara yang bisa menjadi donor, karena tidak semua PMI menyediakan darah yang ready dan bisa ditebus dengan uang.

Ada kalanya kita harus ‘mengganti’ darah tersebut. Inilah fungsinya kerabat yang menjadi donor.

Kedua, Masalah Pendamping

Saat saya akan masuk ruang operasi, suami masih wara-wiri di PMI (yang jarak sekitar 20 km dari rumah sakit). Otomatis, saya sendirian. Hal yang tidak terpikirkan oleh kami untuk memiliki satu orang pendamping lagi bagi saya.

Jika kondisi Anda seperti ini, segera kabari perawat baik di IGD maupun di ruang pra operasi. Karena artinya Anda harus menandatangani sendiri semua surat dan formulir yang diperlukan sebelum operasi, serta mengurus perlengkapan sendiri.

Hal ini bukan berarti Anda akan serta merta didampingi perawat (terutama bagi pasien BPJS seperti saya). Namun, mereka akan lebih aware jika terjadi sesuatu terhadap Anda.

Ketiga, Masalah Perlengkapan

Saat saya bersiap menyambut kelahiran anak kedua dalam kondisi tanpa pendamping, perawat menyarankan agar tas perlengkapan saya ditinggal di IGD karena akan mereka bawakan ke kamar rawat.

Nah, jika ini terjadi pada Anda, pisahkan satu set selimut, bedong, dan kaus kaki/tangan bayi untuk dibawa ke ruang persiapan operasi. Karena nanti, si kecil butuh pakaian bukan? Kecuali jika RS menyediakan perlengkapan ini tentu tidak masalah.

Namun, akan lebih baik membawa perlengkapan ke ruang pra operasi, jika belum mendapatkan kamar. Seperti saya yang masuk melalui jalur IGD, karena kamar belum tersedia.

Masukkan ponsel dan dompet ke satu tas dan bawa ke ruang persiapan operasi agar bisa disatukan dengan pakaian Anda. Biasanya perawat akan menggabungkannya dalam satu kantong khusus dan memberikan identitas berupa nama, nomor rekam medik, nama dokter, dan nomor kamar.

Jika ditinggal, tas tersebut bisa saja hilang karena terbawa ke kamar pasien yang salah, Atau seperti kasus saya, tertinggal di salah satu brankar IGD dan terbawa ke kamar lain.

Keempat, Saat Menunggu Proses Caesar

Sebagai pasien BPJS, saya ternyata harus menunggu giliran dengan beberapa ibu lainnya. Masuk ke ruang pra operasi pukul enam pagi dengan jadwal pukul 06.30 WIB, baru pukul sepuluh saya mendapat giliran.

Selama itu, ternyata ada beberapa prosedur yang meresahkan, seperti kondisi pakaian saat menunggu. Saya sudah diminta memakai pakaian operasi yang panjangnya hanya selutut sejak masuk ke ruangan. Tanpa penutup kepala, padahal saya biasanya berjilbab.

Jika Anda berada di posisi ini di ruang tunggu, tidak ada salahnya minta perawat memberikan selimut untuk menutup tubuh. Minta juga mereka menarikkan tirai pembatas dengan pasien lain.

Akan halnya kondisi dari ruang persiapan ke ruang tunggu, saat itu saya minta perawat menutupkan sprei ke kepala dan tubuh saya. Nggak apa-apa deh kelihatan aneh, asalkan aurat tertutup sebisanya.

Kelima, Asupan Makanan

Karena akan menjalani prosedur operasi, otomatis pasien harus puasa enam jam sebelumnya, bukan? Nah, masalahnya bagaimana jika jadwalnya molor jauh seperti saya?

Sebaiknya ibu yang akan dioperasi mengonsumsi madu dan kurma sebelum mulai puasa. Saat itu, saya meminum segelas air hangat dengan dua sendok madu serta memakan sembilan butir kurma.

Trik ini lumayan berhasil, karena saya tidak lemas walaupun harus puasa sejak pukul satu pagi hingga pukul dua siang.

Walaupun ini adalah pengalaman menyambut anak kedua, ternyata tidak sesederhana yang saya pikirkan. Alhamdulillah semua lancar dan anak saya lahir dengan selamat.

Semoga bahasan ini bermanfaat.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *