Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Pengalaman Hamil Pertama : I Beat You, Hyperemesis!

Image By Pexels.com

Berkeluarga – Saat hamil anak pertama, saya mengalami hiperemesis gravidarum. Ini adalah kondisi dimana saya sangat mual, pusing hebat, dan tidak bisa memakan apapun. Jadi, setiap hari yang saya lakukan adalah makan-mual-muntah-lemas (repeat).

Karena kondisi ini, berat badan saya turun drastis di tiga bulan pertama kehamilan. Berat badan janin tidak usah ditanya lagi, tidak berkembang sama sekali. Itu sebabnya saya mendapat asupan obat, vitamin, hingga susu khusus dari dokter.

Berita baiknya, kondisi ini tidak sampai membuat saya harus dirawat inap di rumah sakit. Tapi berulang kali saya harus izin tidak masuk kantor karena terlalu lemas. Nah, berita buruknya adalah, hiperemesis ini saya alami hingga usia kehamilan enam bulan.

Yup, enam bulan, saudara-saudara. Padahal biasanya hiperemesis gravidarum hanya terjadi di tiga bulan pertama kehamilan. Saat ibu hamil lain sudah bisa makan enak dan jalan-jalan di mall, saya dengan janin berusia enam bulan masih berjuang memasukkan makanan ke dalam perut. Sedihnya…

Kondisi saya yang sering lemas dan muntah berulang membuat saya juga jadi sedikit manja. Tidak mau ditinggal lama-lama oleh suami. Seperti siang itu, hari Minggu, saat suami harus menghadiri sebuah seminar. Saya yang baru muntah kesekian kali hanya menatapnya nanar dari atas sofa. Tapi masak iya saya harus mencegahnya padahal seminar ini sangat penting?

“Ini beneran nggak apa-apa ditinggal?” tanya suami bimbang.

“Iya, kan udah minum vitamin tadi,” jawab saya. Walaupun dalam hati mau teriak, “Ya jangan pergi doong!”

“Aku perginya empat jam aja, kok. Ntar sebelum ashar udah nyampe rumah lagi. Kamu telpon aja kalo mau dibawain makanan, ya,” pesannya.

Saya meringis. Ada banyaak banget makanan yang saya pengin. Tapi sampai sekarang belum ada yang betah di dalam perut lebih dari lima menit.

Setelah suami pergi, perjuangan saya pun dimulai. Seperti biasa, sesudah mengonsumsi vitamin dan anti muntah, saya coba memakan sedikit buah. Tapi apel dan pir itu berakhir di kloset setelah terjun bebas dari perut saya.

Saya coba makan roti, muntah. Makan nasi uduk, muntah. Minum susu setengah gelas, lumayan. Baru lima belas menit kemudian saya muntahkan. Tapi efeknya saya lemas sekali dan sudah mulai malas makan. Capek.

Sambil rebahan di sofa ruang tamu, saya mengedarkan pandangan ke arah jendela, melihat mobil yang lalu-lalang di jalan. Lalu, mata saya menatap ke seberang jalan, ke arah minimarket. Seketika, saya merasa bersemangat.

No, bukan minimarketnya yang membuat saya serasa mendapat energi tambahan, tetapi spanduk di atas pintu masuknya. Duh, itu iklan mie instan sejuta umat yang terkenal hingga luar negeri, seolah memanggil-manggil saya.

“Coba deh makan aku. Aku enak, lho. Yuk, makan, yuk!”

Segera saya bangkit dari sofa, memakai kardigan dan jilbab, lalu melangkah keluar. Kaki yang tadinya lemas, rasanya kuat sekarang. Saya langsung ke rak mie instan, mengambil dua bungkus. Lalu beralih ke rak telur dan sayuran.

Sempat terpikir bahwa ini bukan makanan sehat, tapi hati saya tidak peduli. Nanti bakal saya campurkan telur, sayuran, dan tomat yang banyak biar jadi sehat, heheheh.

Singkat kata, saya langsung mengeksekusi sang Mie Penyelamat begitu sampai di rumah. Menyantapnya sendirian di ruang makan sambil menatap jejeran pot sukulen dan keladi koleksi saya. Rasanya tuh… nikmat banget!

Kuah mie yang hangat membuat perut saya terasa lebih nyaman, dan saya tidak mual sama sekali! Habis satu bungkus, saya menunggu beberapa menit. Mana tahu mie ini juga tidak betah dan minta dikeluarkan, kan?

Tiga puluh menit berlalu, dan saya tidak muntah. Wah, prestasi! Kegirangan membuat saya lapar lagi dan langsung memasak bungkus kedua. Memakannya, dan menunggu. Bahkan hingga suami saya pulang di sore hari, saya tidak muntah sama sekali!

“Segeran kamu,” komentar suami saat melihat saya cengar-cengir sambil membukakannya pintu. “Duh, udah bisa senyum. Ini aku bawain kebab sama buah. Coba dimakan, ya.”

Sambil menunggunya mandi, saya memotong buah dan memakan sedikit. Heei, tidak mual sama sekali! Senang sekali rasanya bisa makan normal lagi setelah enam bulan.

Percaya atau tidak, setelah hari itu saya tidak lagi merasakan mual dan muntah hingga hari kelahiran anak saya. Thanks, Mie Instan Penyelamat! Kamu pahlawanku mengalahkan hiperemesis! Hehehehe.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *