Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Pengalaman Menjadi Orang Tua Baru : Baby Blue Syndrome Ini Nyata, Bukan Mengada-ada

Image By Pexels.com

Berkeluarga -Anak pertama saya lahir melalui caesar cito, setelah 24 jam kami berjuang agar bisa melahirkan normal. Prematur, dengan berat badan nyaris di batas minimal.

Mungkin itu sebabnya dia jadi mendapatkan banyak masalah kesehatan. Mulai dari kolik, sering sesak napas, alergi, dan pencernaannya bermasalah. Hal yang sangat wajar bagi bayi prematur, dan seharusnya saya bisa menghadapinya dengan baik. Tetapi nyatanya tidak.

Hari itu, saya ingat, usianya dua minggu. Menangis tanpa henti sepanjang malam, baru tertidur menjelang subuh, lalu bangun dan menangis lagi pukul sembilan pagi. Minum ASI-nya sedikit, perutnya kembung, dan saya membawanya ke DSA menjelang zuhur.

Sore hari, dia sedikit tenang dan minum ASI hingga bersendawa. Alhamdulillah, berarti dia kenyang, pikir saya. Segera saya mandi (well, FYI, saya belum mandi dua hari waktu itu) dan mengganti baju, lalu ke dapur ingin mengambil makanan.

Namun, mendadak, saya merasa lelah. Capek, lelah, lemas, tidak ada keinginan melakukan apapun. Jadi, saya duduk bengong saja di kursi makan. Otak saya terasa ngelag, badan dan hati tidak sinkron. Yang satu butuh asupan energi, yang satu tidak mau ngapa-ngapain.

Sampai kemudian terdengar lengkingan suara si kecil dari kamar, barulah saya bergerak. Kaku, otomatis, seperti robot. Mengangkatnya ke dada, saya berpikir,

“Kenapa sesulit ini? Kenapa bayi ini tidak bisa saya mengerti? Padahal kan dia keluar dari perut saya. Kenapa dia nggak dilengkapi manual book supaya saya tahu dia mesti diapakan? Kenapa dia nggak punya tombol pause supaya saya mudah menghentikan tangisnya?”

Kelelahan saya memuncak, dan bermuara pada rasa muak. Muak pada kondisi ini, yang tidak bisa saya tangani. Muak pada perubahan dunia saya yang tiba-tiba, jungkir balik 180 derajat, dan tidak bisa saya cegah. Saya melirik bayi saya dan berpikir, “Semua ini gara-gara kamu.”

Jadi, saya taruh dia di atas tempat tidur. Saya ambil bantal dan… oke, bagian ini saya tidak sanggup menceritakannya. Yang jelas, kalau saja saat itu saya tidak mendengar azan maghrib dan tersentak sadar, mungkin anak saya sudah tewas.

Sambil menangis sesenggukan, saya buang bantal itu dan meraup si kecil ke dalam pelukan. Waktu suami saya pulang kerja malam itu, saya segera serahkan bayi kami ke tangannya.

“Jangan dekatkan dulu dia ke aku, ya. Jauhkan dia dulu, aku mau nangis dulu.” Lalu saya masuk kamar mandi dan menangis sejadi-jadinya. Terbayang kan, waktu itu suami saya pasti bingung. Bengong, baru pulang langsung dititipi bayi oleh istrinya yang histeris.

Tapi setelah menangis, saya bisa berpikir lebih jernih. Beruntungnya orang ISTP, kami punya logika yang kuat, hehehe. Saya cari tahu apa yang saat ini terjadi pada diri. Capek teramat sangat, sering menangis dan marah, tidak bisa meluapkan perasaan, muak dan benci pada kehidupan saat ini termasuk pada bayi. Daan, semua ini terjadi setelah melahirkan anak pertama.

Dari hasil searching, saya menduga mengalami baby blue syndrome. Tapi tentu tidak boleh asal self-diagnosis. Maka saya cari info dan pertolongan yang valid ke profesional. Lalu setelah memastikan kondisi, saya beritahu suami dan minta bantuannya.

Saya minta dia lebih banyak membantu pekerjaan rumah tangga. Begadang setiap malam dengan bayi yang kolik dan sering terserang sesak napas tiba-tiba sangat menguras energi fisik dan mental. Jika ditambah pekerjaan rumah yang tak ada habisnya, saya benar-benar tidak sanggup.

Saya juga minta beliau menjaga si bayi sedikit lebih lama dan membiarkan saya menikmati waktu sendiri. Hanya butuh tiga puluh menit menjadi diri sendiri, menikmati hobi membaca saya, tanpa diganggu.

Saya juga minta beliau membatasi kehadiran tamu dan orang-orang yang ingin menjenguk si kecil. Bukan mau sombong, tetapi banyaknya orang yang harus dihadapi membuat social battery saya terkuras. Terlebih, anak kami memiliki alergi bawaan. Kami tidak tahu kan, kuman apa yang dibawa para tamu ke dalam rumah?

Seminggu sekali kami sempatkan menghabiskan waktu berdua. Nonton TV di rumah, makan nasi goreng tengah malam, atau sekadar cuddling sambil scrolling ponsel. Alhamdulillah kondisi ini mulai membaik hingga saya bisa kembali bekerja saat jatah cuti melahirkan selesai.

Baby blue syndrome itu nyata. Walaupun banyak yang bilang itu lebay, si ibu manja, nggak kuat mental, kurang ibadah, tidak bersyukur, bla bla bla, BBS itu nyata.

Jika kamu berencana akan memiliki anak pertama tahun ini, jangan lupa siapkan mental dan ilmu tentang BBS. Bukan hanya kamu, tetapi juga suami. Karena dia lah orang pertama yang harus turun tangan dan membantu saat kondisi kita terpuruk.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *